KASONGAN, potretborneo.com – Belajar tentang sistem pencernaan tidak selalu harus dilakukan dengan membaca buku atau mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas. Hal itu diterapkan SMAN 1 Kasongan melalui pembelajaran Biologi berbasis proyek yang mengajak murid merancang, mengolah, hingga menganalisis makanan bergizi seimbang secara langsung di Laboratorium Biologi, pada Rabu (15/7/2026).
Sebanyak 30 murid kelas XI mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Mereka dibagi dalam empat kelompok dan diberi kesempatan mengolah beragam bahan pangan, mulai dari tahu, wortel, daging ayam, jamur kuping, mangga, madu, susu, hingga air putih.

Bukan hanya memasak, para murid juga ditantang untuk memahami nilai gizi dari bahan yang digunakan. Setiap kelompok kemudian melakukan penghitungan kandungan gizi menu yang dibuat, menjelaskan manfaat masing-masing bahan makanan, dan menghubungkannya dengan kesehatan sistem organ pencernaan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penerapan Project-Based Learning (PjBL) yang dipadukan dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan cara tersebut, materi Biologi yang dipelajari murid tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi langsung dikaitkan dengan kebiasaan dan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Guru Biologi SMAN 1 Kasongan, Novita Sari Handriani, menjelaskan bahwa inovasi pembelajaran itu muncul dari pengamatan terhadap kebiasaan makan murid. Masih banyak murid yang terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula, sementara pemahaman mengenai pola makan bergizi seimbang belum sepenuhnya diterapkan.
“Selama ini murid mengetahui fungsi organ pencernaan, tetapi belum benar-benar memahami kaitannya dengan kebiasaan makan sehari-hari. Karena itu kami mengubah pembelajaran menjadi pengalaman yang bisa mereka lakukan sendiri, mulai dari merancang menu, mengolah makanan, sampai menganalisis kandungan gizinya,” kata Novita.
Bagi murid, pembelajaran dengan pengalaman langsung tersebut memberikan suasana berbeda. Intan Rasiana, salah seorang peserta, mengaku materi menjadi lebih mudah dipahami karena mereka dapat melihat dan mempraktikkan sendiri apa yang sebelumnya hanya dipelajari secara teori.
“Biasanya kami hanya membaca materi di buku. Kali ini kami memasak sendiri, menghitung kandungan gizinya, lalu menjelaskan manfaatnya. Belajarnya jadi lebih menyenangkan dan kami lebih paham kenapa harus memilih makanan sehat,” tuturnya.

Menariknya, kegiatan ini tidak berjalan sendiri. Pembelajaran turut melibatkan guru Prakarya dan PJOK sehingga murid memperoleh pengalaman belajar yang lebih terintegrasi. Teknologi juga dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran melalui Interactive Flat Panel (IFP) dan Platform Kelas Digital Huma Betang.
Kepala SMAN 1 Kasongan, Cuwaca Dewi, menilai penggunaan teknologi akan semakin bermakna ketika dipadukan dengan aktivitas nyata yang melibatkan murid secara langsung.
“Kami terus mendorong guru memanfaatkan berbagai fasilitas pembelajaran yang telah tersedia untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna. Ketika teknologi dipadukan dengan aktivitas nyata, murid tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Pembelajaran berbasis proyek tersebut juga mendorong murid menjadi lebih aktif selama kegiatan berlangsung. Mereka tampak lebih berani berdiskusi, bekerja sama dalam kelompok, mempresentasikan hasil proyek, serta menghubungkan pengetahuan Biologi dengan kebiasaan hidup sehari-hari.
Tidak berhenti di laboratorium, hasil proyek tersebut rencananya akan dikembangkan menjadi kampanye edukasi gizi seimbang melalui media digital dan media sosial sekolah. Dengan demikian, pembelajaran yang dimulai dari laboratorium diharapkan dapat berlanjut menjadi gerakan edukasi yang menjangkau masyarakat lebih luas.
Melalui pendekatan belajar yang memadukan teori, praktik, kolaborasi, dan teknologi, SMAN 1 Kasongan berupaya menanamkan pemahaman bahwa menjaga kesehatan tubuh, termasuk sistem pencernaan, dapat dimulai dari pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari.(zah/red)
