OMC Kalteng dan Kalbar Diperpanjang, Hujan Diharapkan Tekan Karhutla

Palangka Raya, potretborneo.com – Upaya mengendalikan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah terus diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hujan hasil penyemaian awan mulai membasahi sejumlah wilayah dan diharapkan membantu meningkatkan kelembapan gambut serta mengurangi potensi titik api.

Informasi ini mengutip pemberitaan Detiknews, yang menyebut hujan hasil OMC terjadi di sejumlah wilayah Kalbar, mulai dari Putussibau, Kabupaten Kubu Raya hingga Kota Pontianak. Hujan tersebut berdampak pada meningkatnya kelembapan tanah gambut, mendinginkan wilayah terdampak dan membantu menipiskan kabut asap.

OMC dilakukan dengan dukungan analisis cuaca dari BMKG yang berkoordinasi bersama KLH/BPLH, BNPB, TNI AU, Kementerian Kehutanan dan pemerintah daerah. Tim memantau pergerakan awan, arah angin serta kelembapan udara secara real-time agar penyemaian awan dapat dilakukan secara tepat.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penyemaian awan diarahkan ke kawasan gambut yang terdeteksi hotspot. “Penyemaian awan dilakukan di area lahan gambut yang terdeteksi hotspot untuk mengurangi titik panas dan memperbaiki kualitas udara akibat pekatnya kabut asap,” ujar Seto, sebagaimana dikutip Detiknews.

Untuk Kalbar, OMC yang berlangsung sejak 22 Agustus hingga 4 September 2026 telah mencatat 27 sorti penerbangan dengan total 24.600 kilogram NaCl. Sementara OMC di Kalteng sejak 26 Agustus hingga 5 September mencatat 10 sortie penerbangan dengan total bahan semai 8.000 kilogram NaCl.

Hujan ringan hingga sedang juga terpantau di sejumlah wilayah Kalteng, seperti Murung Raya, Barito Utara, Kotawaringin Barat, Kapuas, Lamandau dan Barito Selatan. Pemerintah kemudian memutuskan memperpanjang OMC di kedua provinsi tersebut hingga 14 September 2026, dengan dukungan pembiayaan dari Kementerian Kehutanan dan BNPB.

BMKG menilai integrasi teknologi modifikasi cuaca menjadi langkah penting dalam menggeser penanganan karhutla dari pola reaktif menuju pencegahan dini yang terukur. Melalui kerja sama lintas sektor, upaya tersebut diharapkan dapat menjaga kualitas udara, membasahi lahan gambut dan mengurangi ancaman kabut asap bagi masyarakat.(rah/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *