Reza Prabowo Perkuat Tata Kelola Pendidikan Kalteng Lewat WBS, Sekolah Diminta Jadi Ruang Aman

Palangka Raya, potretborneo.comKepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah Muhammad Reza Prabowo terus mendorong penguatan tata kelola pendidikan yang bersih, transparan, akuntabel, dan berintegritas. Salah satu langkah yang diperkuat adalah penerapan Whistleblowing System (WBS) di seluruh SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKH) se-Kalimantan Tengah.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui pemasangan spanduk WBS secara serentak di berbagai satuan pendidikan pada Senin (22/6/2026). Spanduk bertajuk “Berani Bersuara, Sekolah Kita Lebih Aman” dipasang di area strategis sekolah dan dilengkapi kode QR sebagai akses bagi warga sekolah maupun masyarakat untuk menyampaikan laporan.

Menurut Muhammad Reza Prabowo, keberadaan WBS bukan dimaksudkan untuk mencari-cari kesalahan di lingkungan sekolah. Sebaliknya, sistem tersebut merupakan instrumen pengawasan bersama agar setiap dugaan pelanggaran dapat disampaikan dan ditindaklanjuti secara tepat.

“Kami ingin memastikan bahwa seluruh murid, guru, tenaga kependidikan, dan masyarakat memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan laporan apabila menemukan dugaan pelanggaran. WBS bukan untuk mencari kesalahan, tetapi menjadi instrumen pengawasan bersama agar sekolah benar-benar menjadi lingkungan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas kekerasan,” ujar Reza.

Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh peserta didik untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut terhadap kekerasan, perundungan maupun berbagai praktik yang bertentangan dengan nilai pendidikan.

Karena itu, WBS hadir dengan fungsi yang cukup luas. Melalui sistem tersebut, warga sekolah dapat menyampaikan laporan terkait dugaan perundungan, kekerasan, pungutan liar, diskriminasi, maupun penyimpangan lainnya yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan lingkungan pendidikan.

Pemasangan spanduk juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan WBS secara lebih dekat kepada masyarakat sekolah. SMKN 1 Bataguh, SMAN 2 Kahayan Tengah, SMAN 1 Menthobi Raya, dan sejumlah satuan pendidikan lainnya turut memasang spanduk tersebut di lokasi yang mudah terlihat.

Kepala SMKN 1 Bataguh, Mukti, menyebut pemasangan WBS menjadi bentuk komitmen sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang bersih dan transparan. Menurutnya, WBS sekaligus menjadi sarana edukasi untuk membangun karakter integritas di kalangan warga sekolah.

Sementara itu, Rona Anastasia Hutauruk, perwakilan OSIS SMAN 1 Menthobi Raya, menilai keberadaan WBS dapat meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya keberanian menyampaikan informasi yang benar.

Bagi Reza, keterlibatan peserta didik dalam kampanye WBS menjadi hal penting. Budaya integritas tidak dapat hanya dibangun melalui aturan dari pimpinan sekolah, tetapi harus tumbuh melalui kesadaran seluruh warga satuan pendidikan.

“Generasi muda Kalimantan Tengah adalah aset yang sangat berharga. Karena itu, kita harus bersama-sama menjaga lingkungan pendidikan yang sehat, menjunjung nilai kejujuran, toleransi, tanggung jawab, dan saling menghormati,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberadaan WBS juga menjadi bentuk keterbukaan pemerintah dalam memberikan ruang kepada masyarakat untuk ikut mengawasi penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, pengawasan tidak hanya dilakukan secara internal, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga sekolah dan masyarakat.

“Melalui WBS, kita ingin membangun budaya berani menyampaikan kebenaran dan berani melawan segala bentuk penyimpangan demi masa depan pendidikan Kalimantan Tengah yang lebih baik,” lanjut Reza.

Penguatan WBS tersebut diharapkan dapat menciptakan mekanisme pengawasan yang lebih mudah diakses sekaligus membangun rasa percaya antara sekolah, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Dengan semakin aktifnya satuan pendidikan memasang serta menyosialisasikan Whistleblowing System, Disdik Kalteng optimistis budaya integritas akan semakin kuat. Sekolah diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan serta penyimpangan.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan Kalimantan Tengah yang maju, setara, efektif, efisien, transparan, dan berintegritas, dengan tetap berlandaskan nilai Huma Betang dan Belom Bahadat.(rah/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *