Pulang Pisau, potretborneo.com – Pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan tidak hanya berbicara mengenai perangkat digital, tetapi juga bagaimana teknologi mampu membentuk proses belajar yang lebih tertib, objektif dan berintegritas. Hal itu terlihat dalam Pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) Genap Tahun Ajaran 2025/2026 di SMAN 2 Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, yang menggunakan Kelas Digital Huma Betang.
Pelaksanaan PAS tersebut mendapat apresiasi setelah berjalan lancar, tertib dan sukses, berdasarkan hasil monitoring Pengawas SMA/SMK/SKH Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Made Pujangga, pada Senin (8/6/2026). Monitoring dilakukan langsung di ruang kelas, laboratorium komputer hingga dashboard administrasi untuk memastikan seluruh tahapan ujian berjalan sesuai standar.
Menurut Made Pujangga, Kelas Digital Huma Betang memberikan pengalaman evaluasi pembelajaran yang lebih modern sekaligus memperkuat kualitas tata kelola pendidikan. Sistem tersebut memungkinkan proses penilaian dilakukan secara lebih efektif dan akuntabel dengan dukungan teknologi.
“Penilaian Akhir Semester bukan sekadar mengukur hasil belajar peserta didik, tetapi juga menjadi instrumen untuk memastikan kualitas proses pendidikan. Melalui Kelas Digital Huma Betang, evaluasi dapat dilaksanakan secara lebih efektif, objektif, dan akuntabel,” ujarnya.
Salah satu capaian yang menjadi perhatian dalam monitoring adalah tingkat kehadiran peserta didik yang mencapai 99,39 persen. Dari 163 siswa kelas X dan XI yang terdaftar sebagai peserta PAS, sebanyak 162 siswa hadir dan menyelesaikan ujian tepat waktu, sedangkan satu siswa tidak mengikuti ujian karena sakit.
Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan kesiapan sekolah dalam menerapkan evaluasi berbasis digital sekaligus kemampuan siswa beradaptasi dengan sistem baru. Bahkan, pelaksanaan ujian tetap berjalan meski terdapat beberapa kendala teknis berskala kecil.
“Tingkat kehadiran yang sangat tinggi menunjukkan bahwa siswa telah mampu beradaptasi dengan baik terhadap sistem ujian digital. Ini menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan yang dilakukan berjalan pada jalur yang tepat,” kata Made.
Dari sisi infrastruktur, Kelas Digital Huma Betang dapat diakses melalui smartphone maupun laptop pribadi siswa. Sekolah juga menyiapkan laboratorium komputer dan Wi-Fi sebagai fasilitas pendukung bagi siswa yang mengalami kendala perangkat maupun keterbatasan kuota internet.
Tidak hanya mengandalkan teknologi, pelaksanaan PAS di SMAN 2 Maliku juga menempatkan karakter dan integritas sebagai bagian penting dari proses evaluasi. Fitur lockdown browser digunakan untuk membantu mencegah peluang kecurangan, sementara pengawasan langsung tetap dilakukan oleh pihak sekolah.
“Hasil pengawasan menunjukkan tingkat integritas siswa sangat baik. Pengawasan digital yang dipadukan dengan pengawasan langsung di ruang kelas mampu menciptakan suasana ujian yang jujur, tertib, dan kondusif,” jelas Made.
Menurutnya, keunggulan Kelas Digital Huma Betang tidak berhenti pada penggunaan teknologi. Sistem tersebut juga menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai lokal Kalimantan Tengah dalam proses pendidikan. Nilai Handep terlihat dari kerja sama antara sekolah, guru, proktor dan peserta didik, sementara nilai Belom Bahadat tercermin melalui kejujuran, kedisiplinan dan integritas selama ujian.
“Kelas Digital Huma Betang bukan hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat karakter, budaya, dan integritas peserta didik,” katanya.
Beberapa kendala seperti fluktuasi sinyal internet, akun siswa yang terkunci karena kesalahan kata sandi dan peserta yang lupa menekan tombol submit sempat ditemukan dalam pelaksanaan. Namun, persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat oleh tim IT, proktor dan panitia sehingga tidak berdampak signifikan terhadap jalannya ujian.
Made menilai kemampuan sekolah menangani kendala menjadi bagian penting dalam keberhasilan transformasi digital. Karena itu, sekolah didorong untuk terus melakukan pemeliharaan sistem dan memastikan kesiapan akun peserta sebelum pelaksanaan evaluasi.
“Yang terpenting bukan tidak adanya kendala, tetapi bagaimana sekolah mampu merespons dan menyelesaikan kendala tersebut secara cepat sehingga proses ujian tetap berjalan dengan baik,” tuturnya.
Ke depan, Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah mendorong pengembangan Kelas Digital Huma Betang agar tidak hanya digunakan untuk evaluasi, tetapi semakin berkembang menjadi model pembelajaran digital yang memadukan teknologi, karakter dan kearifan lokal.
Dengan capaian kehadiran 99,39 persen dan pelaksanaan yang tetap kondusif, PAS di SMAN 2 Maliku menjadi gambaran bahwa transformasi pendidikan berbasis digital dapat diterapkan secara efektif hingga ke daerah. Teknologi pun tidak hanya menjadi alat untuk menguji kemampuan akademik siswa, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun kedisiplinan, kejujuran, kolaborasi dan karakter generasi muda Kalimantan Tengah.(rah/red)
